UMKM

UMKM ( USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH )

1.        Keberadaan Alamiah UK

Proses pembangunan ekonomi di suatu negara secara alamiah menimbulkan kesempatan besar yang sama bagi semua jenis kegiatan ekonomi dari semua skala usaha. Besarnya (size) suatu usaha tergantung pada sejumlah faktor, dua di antaranya yang sangat penting adalah pasar dan teknologi. Apabila pasar yang dilayani kecil, yakni untuk jenis-jenis produk tertentu yang memang jumlah pembelinya terbatas atau sifatnya musiman, maka unit usaha yang cocok, dalam arti waaupun omset kecil usaha tersebut tetap dapat menghasilkan margin keuntungan yang lumayan, adalah UK atau UM. Besar kecilnya pasar itu sendiri ditentukan oleh tingkat pendapatan rill per kapita dan jumlah penduduk serta strukturnya atau jumlah pembeli sebenarnya atau potensial.

Dalam hal teknologi, apabila economic size dari suatu jenis produk yang ditentukan oleh tekonologi adalah kecil, maka suatu perusahaan besar yang membuat produk tersebut akan dengan cepat tersisihkan dari pasar. Pasar maupun teknologi tidak tetap, tetapi berubah terus mengikuti waktu. Dalam 5 hingga 10 tahun belakangan ini dapat dilihat adanya perubahan atau inovasi teknologi yang sangat pesat, terutama di bidang-bidang seperti bio, informasi, telekomunikasi,televisi, satelit, faksmile, komputer, otomatisasi, dan pengolahan material-material. Perubahan teknologi ini juga dengan sendirinya membuat terjadinya perubahan pasar yang terus menerus. Banyak perusahaan besar mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan teknologi dan pasar serta jarang penyesuaian yang harus dilakukan tanpa biaya yang sangat tinggi. Dalam kondisi seperti ini ISK ( Industri Skala Kecil ) lebih fleksibel dalam menyesuaikan diri dan oleh karena itu memiliki harapan lebih besar daripada IMB (Industri Menengah dan Besar) untuk dapat survive

2.        Perkembangan UKM di Indonesia

Jumlah UKM di Indonesia cukup besar dan bergerak di hampir semua sektor ekonomi serta tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu UKM di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam meningkatkan perekonomian nasional. Menurut laporan Biro Pusat Statistik (BPS) 1996, pada tahun 1993 UK (termasuk usaha rumah tangga/URT) tercatat sebanyak 34,2 juta unit dengan omset kurang dari Rp 1 miliar per tahun. Jumla ini merupakan 99,8 persen dari seluruh unit usaha di tanah air yang berjumlah 33,5 juta unit. Dari jumlah UK ini, sekitar 52,3 persennya memiliki omset kurang dari Rp 1 juta per tahun. Sedangkan jumlah usaha menengah dan besar (UMB) hanya 66.428 unit atau hanya 0,2 persen dari seluruh unit usaha.

Sebaran UK terbesar berada pada sektor-sektor pertanian (21,76 juta unit/ 63,61 persen), perdagangan, hotel, dan restoran (5,95 juta unit/ 17,39 persen), dan industri  manufaktur (2,58 juta unit/ 7,54 persen). Selebihnya menyebar pada sektor-sektor pengangkutan dan komunikasi (1,21 juta unit/ 3,54 persen), jasa (1,35 juta unit/ 3,39 persen), bangunan/konstruksi (0,87 juta unit/ 2,53 persen), keuangan, persewaan, dan jasa kemasyarakatan (0,38 juta unit/ 1,12 persen), pertambangan dan penggalian (0,09 juta unit/ 0, 26 persen), dan listrik, gas, dan air bersih (0,02 juta unit/ 0,06 persen).

Dilain pihak, posisi usaha menengah (UM) atau industri skala menengah (IM) akan semakin penting di dalam perekonomian Indonesia dalam memasuki pasar bebas dan globalisasi perekonomian dunia, terutama dalam kaitan dengan peranannya sebagai pilar kekuatan UB (Usaha Besar) dan juga sebagai integrating units antara UK dan UB, misalnya dalam keterkaitan produksi lewat subcontracting di sektor manufaktur antara ISK (Industri Skala Kecil) dan IB (Industri Besar). ISK mensuplai komponen-komponen tertentu ke IM. Selanjutnya IM dengan memakai komponen-komponen tersebut membuat barang-barang setengah jadi yang kemudian disuplai ke IB untuk final processing.

3. Kondisi Umum UK

Karakteristik yang melekat pada UK (termasuk mikro) bisa merupakan kelebihan atau kekuatannya yang potensial, di sisi lain pada kekuatan tersebut implisit terkandung kekurangan atau kelemahan yang justru menjadi penghambat perkembangannya. Kombinasi dari kekuatan dan kelemahan serta interaksi keduanya dengan disituasi eksternal akan menentukan prospek perkembangan UK.

1. Kekuatan

Beberapa kekuatan yang dimiliki UK adalah sebagai berikut.

  • Daya tahan

Walaupun selama krisis ekonomi terbukti banyak juga UK di subsektor-subsektor manufaktur tertentu yang gugur, secara umum dapat dikatakan bahwa UK memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi. Motivasi pengusaha kecil sangat kuat dalam mempertahankan kelangsungan usahanya karena usaha itu merupakan satu-satunya sumber penghasilan keluarganya. Oleh sebab itu, berbeda degan UMB, pengusaha kecil sangat adaptif dalam menghadapi perubahan situasi dalam lingkungan usahanya

  • Padat karya

Dibandingkan dengan UMB, UK sangat padat karya dan persediaan tenaga kerja di Indonesia sangat banyak sehingga upah relatif lebih murah jika dibandingkan dengan di negara-negara lain dengan jumlah penduduk yang lebih sedikit daripada di Indonesia. Dengan asumsi faktor-faktor lain mendukung (misalnya kualitas produk yang dibuat baik), maka upah murah merupakan salah satu keunggulan komparatif yang dimiliki UK di Indonesia.

  • Keahlian Khusus (Tradisional)

Misalnya, IK dan IRT di Indonesia lebih banyak membuat produk-produk sederhana yang di satu pihak membutuhkan keahlian khusus dan di pihak lain tidak terlalu membutuhkan pendidikan formal. Keahlian khusus tersebut biasanya dimiliki warga setempat secara turun-temurun, dari generasi ke generasi.

  • Jenis produk

Banyak IK atau IRT yang membuat produk-produk yang bernuansa kultur, seperti produk-produk kerajinan tangan dari bambu dan rotan atau ukir-ukiran kayu, yang pada dasarnya merupakan keahlian tersendiri dari masyarakat di masing-masing daerah.

  • Keterkaitan dengan sektor pertanian

Secara umum, kegiatan IK dan IRT di Indonesia masih sangat agricultural based karena memang banyak komoditas pertanian yang dapat diolah dalam skala kecil, tanpa harus mengakibatkan biaya produksi yang tinggi. Karena sektor pertanian, paling tidak secara potensial, merupakan sektor terbesar di Indonesia, maka sebenarnya perkembanga IK dan IRT mempunyai suatu prospek yang sangat baik. Selain itu, karena banyak IK dan IRT bergerak di bidang agroindustri, maka pada umumnya kelompok industri ini lebih banyak menggunakan bahan baku dan bahan penolong lokal atau tingkat ketergantungan terhadap impor jauh lebih rendah dibanding IMB (terutama IB).

  • Permodalan

Kebanyakan pengusaha kecil menggantungkan diri pada tabungan sendiri atau dana pinjaman dari sumber-sumber informal untuk kebutuhan modal kerja dan investasi mereka, walaupun banyak juga pengusaha kecil yang memakai fasilitas-fasilitas kredit khusus dari pemerintah. Selain itu, memang investasi IK dan IRT rata-rata jauh lebih rendah daripada investasi di IM, apalagi di IB.

2. Kelemahan

Kendala-kendala yang banyak dialami oleh pengusaha-pengusaha mikro dan kecil, pada tingkat yang lebih rendahh juga oleh pengusaha menengah, adalah terutama keterbatasan modal, khususnya untuk modal kerja, kesulitan dalam pemasaran dan penyediaan bahan-bahan baku, keterbatasan sumber daya manusia (pekerja dan manager), pengetahuan yang minim mengenai bisnis, serta keterbatasan dan kurangnya penguasaan teknologi.

Data BPS menunjukan bahwa masalah paling besar, baik yang dialami oleh pengusaha-pengusaha IK maupun IRT, adalah keterbatasan modal dan pemasaran. Masalah-masalah lainnya adalah pengadaan bahan baku, kurang keahlian dalam jenis-jenis teknis produksi tertentu, kurang keahlian dalam pengelolaan yang tajam.

Dalam hal pemasaran, kesulitan yang dihadap pengusaha-pengusaha kecil terutama disebabkan oleh keterbatasan akan berbagai hal penting, misalnya informasi mengenai perubahan dan peluang pasar yang ada, dana pemasaran/promosi, pengetahuan mengenai bisnis , strategi pemasaran, dan komunikasi. Dalam hal terakhir ini tidak saja kemampuan pengusaha-pengusaha kecil untuk berkomunikasi sangat rendah, tetapi juga akses mereka ke fasilitas-fasilitas untuk berkomunikasi sangat terbatas.

Keterbatasan-terbatasan tersebut membuat banyak pengusaha mikro dan kecil, khususnya di daerah pedesaan, menjadi sangat tergantung pada pedagang-pedagang keliling dan pemilik-pemilik grosir di kota-kota, khususnya bagi mereja yang ingin menjualnya ke pasar-pasar di luar daerah mereka, misalnya ke kota-kota dipropinsi-propinsi lain dan terutama ke pasar ekspor. Sedangkan pengusaha-pengusaha kecil yang hanya melayani pasar lokal, kebanyakan mereka berhubungan langsung dengan konsumer, tanpa perantara pedagang.

3. Tantangan

Tantangan yang dihadapi UKM atau dunia usaha pada umumnya saat ini dan yang akan datang adalah terutama dalam aspek-aspek berikut ini.

  • Perkembangan teknologi yang pesat

Perubahan teknologi mempengaruhi ekonomi dari dua sisi, yakni sisi penawaran dan sisi permintaan. Pada periode awal setelah perubahan tersebut lebih banyak berasal dari perusahaan atau industri, sedangkan dari masyarakat, setelah mereka diperkenalkan dengan produk-produk baru yang mengandung teknologi baru, maka permintaan konsumen di pasar juga akan berubah. Jadi UKM sangat tergantung pada tingkat fleksibilitasnya dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian di segala bidang yang berkaitan dengan perubahan teknologi. Di sini, antara lain penguatan SDM sangat krusial.

  • Persaingan semakin bebas

Dengan diterapkannya sistem pasar bebas dengan pola atau sistem persaingan yang berbeda dan intensifitasnya yang lebih tinggi, ditambah lagi dengan perubahan teknologi yang berlangsung terus dalam laju yang semakin cepat dan perubahan selera masyarakat yang terus meningkat, maka setiap pengusaha kecil dan menengah (juga besar) ditantang, apakah mereka sanggup mengahadapi /menyesuaikan usaha mereka dengan semua perubahan ini.

4. Peluang

Akibat krisis ekonomi dan perubahan politik, muncul banyak peluang besar bagi UKM terutama dalam dua hal berikut ini.

  • Akibat krisis

Selain memberi dampak negatif, krisis ekonomi juga menciptakan suatu peluang besar bagi UMK. Dari sisi penawaran, krisis ini memberi sejumlah dorongan positif bagi pertumbuhan output (bukan produktivitas) di UKM lewat labour market effect, yakni pertumbuhan jumlah unit usaha, jumlah pekerja, atau pengusaha akibat meningkatnya jumlah pengangguran. Dorongan positif lainnya dari sisi penawaran (produksi) adalah munculnya tawaran dari UB untuk melakukan mitra usaha dengan UKM karena kondisi memaksa. Selain itu, krisis ekonomi juga memberi kesempatan ekspor lebih besar bagi UKM, walaupun kenyataannya tidak terlalu signifikan.

  • Otonomi daerah

Kebijakan pemerintah di dalam pengembangan pemerintahan daerah atau otonomi daerah juga merupakan suatu peluang besar bagi UKM di daerah karena salah satu syarat utama menjadi otonom adalah bahwa daerah yang bersangkutan harus punya pendapatan daerah yang cukup untuk membiayai roda perekonomian. Ini berarti perlu lembaga-lembaga ekonomi lokal, termasuk UKM yang akan memberikan pendapatan daerah. Jadi, peranan UKM di daerah tidak hanya sebagai salah satu instrumen kebijakan pemerintah untuk menghilangkan kesenjangan pendapatan / pembangunan antarwilayah, tetapi juga sebagai alat pengembang ekonomi daerah.

 

Sumber : Buku Perekonomian Indonesia, Penulis Dr. Tulus T.H Tambunan, Penerbit Ghalia Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s