Risiko Berbisnis di Indonesia Meningkat

RISIKO BERBISNIS DI INDONESIA MENINGKAT

 

Tidak dapat dipungkuri bahwa industrialisasi di Indonesia sejak Pelita I, khususnya sejak deregulasi 1985, hingga saat ini telah mencapai hasil yang diharapkan. Setidaknya industrialisasi telah mengakibatkan transformasi struktural ke sektor modern. Demikian pula, pertumbuhan nilai tambah sektor industri manufaktur pada periode setelah deregulasi melebihi rata-rata nasional.

Hanya saja, strategi industrialisasi yang banyak mengandalkan akumulasi modal, proteksi, dan padat teknologi tinggi telah menimbulkan polarisasi dan dualisme dalam proses pembangunan. Fakta menunjukan bahwa di dalam sektor manufaktur yang modern hidup berdampingan kelompok yang bukan protektif. Dualisme dalam sektor manufaktur tersebut tampak nyata kija dilihat dari latar belakang kinerja berbagai kelompok tersebut. Kelompok perusahaan besar dan protektif tumbuh karena fasilitas yang mereka terima, sementara yang lain bersaing karena kemampuan mandiri dan daya saingnya.

Industri Indonesia juga berkarakter pada dikotomi antara perusahaan-perusahaan berorientasi ekspor yang efisien dan perusahaan-perusahaan yang tidak efisien dan berorientasi ke dalam negeri. Karena industri-industri yang tidak efisien dilindungi tarif impor yang relatif tinggi dan bukan tarif konsumen pembeli barang-barang manufaktur di Indonesia harus membayar US$ 12 miliar  lebih tinggi dibandingkan tingkat harga internasional. Di lain pihak, kelompok dominan yang relatif protektif tidak mampu bersaing dengan produk sejenis dari luar negeri. Setidak-tidaknya ini terlihat pada produk-produk yang protektif, seperti kertas, logam, besi-baja, dan sebagainya.

Tantangan yang dihadapi untuk memperkuat struktur perekonomian nasional sebagaimana diamanatkan dalam GBHN memang cukup berat. Kemitraan antara pengusaha besar, sedang dan kecil menjadi tantangan serius. Orientasi pada persaingan global perusahaan menengah dan besar dengan demikian harus menjadi prioritas, sambil memperluas pasar domestik untuk pengusaha kecil. Pembinaan para pengusaha kecil dengan demikian harus lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan merekan menjadi pengusaha kelas menengah. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan, keterampilan, keahlian, maanajemen sumber daya manusia, kewirausahaan, pemasaran, dan keuangan. Lemahnya kemampuan  manajerial dan sumber daya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik.

Tantangan globalisasi bagi kekuatan struktur industri dalam negeri adalah kemampuan bersaing pengusaha dalam negeri tanpa mereka harus diberi proteksi, sehingga dia mampu berusaha dan mandiri dengan kemampuan daya saingnya. Oleh karena itu, apabila ingin berbicara banyak dalam pasar global, mau tidak mau distorsi yang menghalangi fair competition harus dihilangkan.

Pertanyaannya adalah, siapa yang perlu menjadi “target” dari kelompok yang perlu dibantu. Kelompok pertama adalah kelompok pengusaha, rumah tangga, dan ya ng sangat kecil skala usahanya. Mereka tidak memiliki modal dan pengetahuan apapun kecuali tenaga kerja dan semangat usaha yang tinggi. Kelompok kedua adalah pengusaha kecil yang punya sedikit modal dan aktivitas serta tenaga yang cukup.

Untuk kelompok pertama, bisa dikatakan “the smallest among the small” dan tidak berdaya secara  finansial maupun aktivitas bisnis. Untuk mengentaskan mereka mau tak mau ulurkan tangan para konglomerat harus langsung dan bisa atas dasar belas kasihan. Berikan kepada mereka bantuan (pembinaan) Cuma-Cuma dan secara berkesinambungan. Sebab, perbaikan usaha mereka akan memakan waktu dari generasi ke generasi.

Kelompok kedua secara umum bisa dikatakan cukup profesional dan aktivitas bisnis mereka tumbuh dengan mengesankan. Mereka tidak memerlukan belas kasihan. Berdasarkan hasil dari penelitian kombinasi data sekunder dan primer menunjukan bahwa kemungkinan pertumbuhan ukuran perusahaan menjadi besar tampak nyata pada semua kelas. Namun demikian, secara proporsional, peningkatan terkeci terjadi pada saat perusahaan yang (sama) telah tumbuh menjadi perusahaan skalah menengah, sementara itu, kemungkinan perusahaan mengalami degradasi atau bangkrut menunjukan gejala peningkatan pada semua kelas kecuali pada perusahaan besar.

Temuan ini menunjukan bahwa :

  1. Tingkat risiko untuk melakukan bisnis meningkat
  2. Perusahaan kecil di Indonesia tumbuh dengan tingkat yang cukup berarti namun mengalami kesulitan ketika dia tumbuh menjadi pengusaha skala menengah. Alasannya adalah karena persaingan dari yang besar.
  3. Mereka yang memiliki kemungkinan buruk untuk “naik kelas” lebih besar, yakni perusahaan kecil dan menengah, harus berjuang menerima risiko kegagalan yang lebih besar.

Ada tiga hal pokok yang bisa disarankan dalam rangka mencari bentuk kemitraan pengusaha besar (konglomerat), menengah, dan kecil. Pertama, lewat perubahan orientasi pengusaha besar dan konglomerat dari domestik ke global sesuai dengan keunggulan komparatif yang dimiliki. Kedua, melalui kegiatan ilmu dan teknolgi dan penelitian terapan yang bisa dilakukan oleh pengusaha kelas besar. Ketiga, pengembangan usaha kecil sebagai basis ekonomi nasional merupakan salah satu langkah strategis yang perlu ditindak lanjuti dengan langkah nyata dan tidak hanya berhenti pada retorika politik semata.

Sumber : Buku Ekonomi Indonesia Baru , Penulis Anggito Abrimanyu,     Penerbit PT. AlexMedia Komputindo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s