Dari Miracle ke Mirage

DARI MIRACLE KE MIRAGE

Krisis yang dipicu penurunan nilai rupiah terhadap dolar AS pada pertengahan tahun 1997 lalu dan selanjutnya diikuti berbagai tindakan pengamanan pemerintah, misalnya kebijakan uang ketat, pada kenyataannya tidak sanggup meredam krisis.

Inflasi kelompok makanan menunjukan kenaikan tertinggi yang pernah dicapai Indonesia sejak Pelita I, yakni lebih dari 15% per tahun(197). Sementara sektor industi manufaktur sejak bulan September 1997 mulai menunjukkan kecenderungan yang menurun.

Pada sektor properti, gejolak moneter dirasakan sangat menyiksa kegiatan usaha. Pada pembangunan perumahan, misalnya, para pengembang menerima pukuan telak. Sedikitnya dua persoalan yang mereka hadapi. Pertama, kenaikan bahan-bahan bangunan. Kedua, seperti yang telah kita ketahui, tersedotnya dana bank pemerintah membuat para pengembang mengalami kesulitan pendanaan. Gejolak krisis yang terjadi juga telah merambat pada industri tekstil dan garmen. Tiga puluh sembilan dari 112 industri tekstil dan garmen di Bandung, Jawa Barat, yang kita ketahui termasuk salah satu sentra terkstil kita, yang menghentikan produksinya. Akibatnya, sedikitnya 10 ribu karyawan mereka terancam pemutusan hubungan kerja. Sementara itu, diberitakan pula bahwa ratusan industri tekstil dan garmen lainnya terpaksa mengurangi shift kerja.

Industri otomatif yang sebagian besar masih bergantung pada komponen-komponen dari luar Indonesia juga mengalami goncangan. Kenaikan harga suku cadang kendaraan angkutan umum sebesar 30-50% persen dan harga cicilan kendaraan yang juga naik membuat pengusaha angkutan kota di Cirebon, Jawa Berat, terancam gulung gitar. Selain otomotif, kehidupan industri pers yang juga masih mengandalkan beberapa bahan baku (kertas, tinta) impor turut berpengaruh pula.

Krisis yang terjadi semakin diperparah oleh beragam bencana alam yang menimpa belahan bumi Indonesia. Kekeringan yang berkepanjangan dan kebakaran hutan yang tidak kunjung padam turut memberikan andil terganggunya sistem produksi maupun distribusi barang dan jasa.

Rupiah Oversbooting

Gejala krisis moneter di Asia Tenggara belum mereda dan bahkan ada gelagat akan berkepanjangan. Kurs mata uang sekarang masih bersifat oversbooting, baik di Indonesia, Thailand, Malaysia, maupun Philipina. Dalam konteks Indonesia, untuk merangsang ekspor non-migas sebenarnya kurs Rp 3.000,- per dolar AS sangat mungkin sudah lebih dari cukup, tetapi kurs Rp 3.500,- s.d. Rp 3600,- per dolar AS tampaknya akan bertahan lebih lama, selama modal portofolio serta kredit bank asing masih takut kembali ke Asia Tenggara. Permintaan terhadap dolar jauh melebihi penawarannya, karena unsur keperluan pembayaran kembali utang luar negeri dan bunganya dari kalangan perusahaan.

Belakangan ini mata uang di Thailand, Malaysia, dan Filipina mulai sedikit menguat, dan rupiah merupakan pengecualian. Meski pun sudah ada campur tangan dari IMF dan bantuan beberapa negara tetangga maupun masyarakat, kurs upiah tetap tidak mau turun menjadi Rp 3.500,- per dolar AS. Ditambah lagi ada gejala efek ketularan atau contagion effect yang menyentuh mata uang Korea, Hong Kong, dan Taiwan. Mata uang Won, misalnya sudah terdepresiasi sebesar 70% dari November hingga kini, padahal ekspor impor kita ke dan dari Korea cukup besar (ekspor total ke Korea 6,5% dan impor hampir 13% dari seluruh impor Indonesia). Sementara FDI (Investasi Asing Langsung) dari Korea ke Indonesia adalah peringkat ketujuh.

Yang juga harus diwaspadai adalah “sentimen pasar”  di pasar uang di Barat terhadap keuangan di Asia Tenggara dan Timur. Surat kabar New York Times sudah menyindir bahwa Asian Miracle (keajaiban Asia) mungkin menjadi Asian mirage (fatamorgana atau khayalan Asia) dan meyimpulkan bahwa investor keuangan Barat sedang meninggalkan Asia energing market yang menarik.

Kekeringan dan Kebakaran Hutan

Di samping persoalan moneter, aspek kekeringan dan kebakaran hutan juga tak kalah dasyatnya dalam keikutsertaannya memperparah krisis di Indonesia. Dalam jangka pendek, produksi pertanian akan dikekang oleh bencana alam, terutama kemarau panjang dan kebakaran hutan, serta kemungkinan banjir pada tahun mendatang. Dalam jangka menengah, kendala yang lebih mengekang adalah faktor non-harga seperti infrastruktur fisik pedesaan, teknologi, tenaga terlatih, perlindungan hak, pasar kredit yang belum memadai, lembaga perdagangan yang mahal, dan kapasitas industri pengolahan yang masih dangkal. Tambahan lagi, pengekengan moneter dan fiskal akan membatasi upaya pemerintah melonggarkan segala kendala ini.

Insentif harga dapat merangsang produksi manakala mmang terdapat “kapasitas menganggur” dalam industri bersangkutan. Dalam pertanian Indonesia kontemporer, sulit ditemukan “kapasitas menganggur” seperti itu, apalagi di daerah dengan budi daya intensi. Pada beras, misalnya, peningkatan produkvitas akan sukar diperoleh kendati kita menambah imput. Malah akan timbul dampak negativ terhadap lingkungan.

Harga komoditi perkebunan yang meningkat akan dapat merangsang peningkatan produksi dalam jangka panjang. Diperkirakan dampak yang paling besar akan dirasakan dalam kurun waktu antara lima hingga sepuluh tahun mendatang. Ini pun mungkin tidak akan sebesar yang diperkirakan orang. Tingkat bunga yang tinggi akan menyulitkan pembukaan kebun baru secara besar-besaran. Disamping itu, merosotnya nilai rupiah akan meningkatkan biaya pendirian pabrik. Lagi pula, Malaysia dan Thailand, dua negara yang memproduksi devaluasi. Selain dari itu, perhatian regional dan internasional terhadap kebakaran hutan akan menyulitkan diteruskannya cara-cara pembukaan lahan yang murah.

Krisis makro ekonomi telah meningkatkan jumlah keluarga miskin dan mungkin sekali akan mengurangi peluang stabilisasi pendapatan yang telah mebantu menjamin konsumsi pangan keluarga miskin di pedesaan selama dasawarsa terakhir ini. Daya beli keluarga miskin, dan yang dahulu dikategorikan sebagai “hampir miskin”, semakin merosot lagi sebagai akibat devaluasi dan inflasi. Dalam jangka pendek, keluarga yang umumnya meghabiskan 60-70% dari pendapatannya untuk konsumsi angan, menghadapi meningkatnya harga pangan. Sementara, pekerjaan musiman dalam bidang konstruksi dan sektor jasa bernilai rendah yang selama ini merupakan sumber nafkah tambahan mereka akan sangat sulit diharapkan dapat menolong penghasilan mereka.

Selama ini, pertumbuhan padat-karya telah menjadi tumpuan upaya meraih kemajuan dalam ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Operasi pasar yang dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog) terutama bertujuan menjamin komoditas strategis tetap tersedia dan gejolak harga pangan musiman membantu menjamin petani menerima harga yang kompetitif pada waktu panen sementara keluarga miskin akan tetap dapat membeli komoditi strategis pada musim paceklik.

Menurut Deartemen Kehutanan, luas hutan yang terbakar sampai dengan akhir 1997 adalah 165.361,83 ha, dengan kerugian langsung ditaksir sebesar 12 triliun, lebih rendah dari estimasi kerugian pada tahun 1982/1983 yang mencapai Rp 15 triliun. Apabila menggunakan standar internasional, kerugian akibat kebakaran hutan bisa mencapai Rp 25 triliun. Sedangkan LSM Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) melaporkan luas hutan produksi yang terbakar adalah 578.000 ha, termasuk hutan konservasi seluas 45.000 ha. Menurut Walhi luas laahn gambut yang terbakar sejak April sampai Semptember 1997 telah mencapai 260.000 ha.

Adakah hikmahnya ?

Akibat dari krisis ekonomi , antara lain, harga-harga dalam negeri tentu akan naik banyak. Salah satu dampaknya adalah, buruh dan pekerja tidak akan diam menuntut kompensasi yang setimpal. Undang-undang ketenagakerjaan yang baru memungkinkan buruh mogok dan pasti akan digunakan oleh serikat-serikat kerja. Di lain pihak, kalangan perusahaan maupun pemerintah tidak punya kepastian akan keseimbangan baru kurs mata uang.

Kalau semua kenaikan harga, upah, dan tarif kan didasarkan kurs baru, maka akhirnya kurs ini akan menjadi kenyataan jangka menengah. Tetapi, inflasi dalam masa peralihan akan sangat menyusahkan baik pemerintah maupun dunia usaha.

Sektor non-ekspor jelas akan menderita. Karena ekspor Indonesia “hanya” seperempat produk domestik bruto (PDB), maka sektor non-ekspor ini jauh lebih besar penderitannya dalam masa krisis. Kalau sektor ini menanggung dampak jelek maka akibatnya adalah kemunduran laju pertumbuhan ekonomi. Ini memang sudah sering diperingatkan. Krisis mata uang di Asia Tenggara pasti akan menurunkan laju pertumbuhan ekonomi kawasan ini. Mudah-mudahan tidak untuk terlalu lama, tidak melebihi dua tahun. Namun demikian, belajar dari pengalaman kebijakan uang ketat 1991, hal itu tidak mudah untuk dicapai.

Oleh karena itu deregulasi ekonomi Indonesia harus dilanjutkan agar ekonomi kita bisa menjadi lebih efesien. Inilah hikmah terbesarnya, bahwa krisis mata uang akhirnya bisa menyehatkan badan ekonomi kita lewat derulasi dan perombakan beberapa sektor, terutama sektor perbankan dan industri manufaktur.

Bahwa dalam proses ini kita terpaksa melibatkan IMF janganlah dipandang mengorbankan kedaulatan negara, nasionalisme, serta pemerintah kita. Adanya tekanan dari luar, yang juga disertai dengan bantuan, mempermudah kita menyeseuaikan diri dengan situasi yang baru.

Secara umum, proyeksi ekonomi Indonesia pada tahun 1998 menunjukan indikasi “suram”. Sejak 1986 Indonesia dan seluruh Asia Tenggara telah menikmati pertumbuhan tinggi serta mengalami boom. Banyak modal asing yang masuk, termasuk dalam bentuk modal portofolio dan kredit bank. Akibatnya, kita lupa daratan dan tidak hidup di atas kemampuan murni kita. Jadi, kunci untuk mengatasi krisis adalah kita harus sadar kembali. Memperkuat diri, menyuasaikan tingkat hidup yang wajar, dan mengeram tingkat kegiatan kita yang cendrung konsumtif dan ekspansif.

Sumber : Buku Ekonomi Indonesia Baru , Penulis Anggito Abrimanyu, Penerbit PT. AlexMedia Komputindo

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s