Mempertanyakan Mekanisme Pasar dan Globalisasi

MEMPERTANYAKAN MEKANISME PASAR DAN GLOBALISASI

 

Banyak pendapat khususnya dari kalangan pemerintah yang memberikan indikasi bahwa sosok pembangunan negeri ini selama 10 tahun terakhir sebelum krisis baik-baik saja. Globalisasi menghasilkan perluasan pasar yang win-win. Derugalasi menghasilkan ekonomi yang lebih efisien dan produktif. Kesempatan berusaha dan bekerja lebih banyak tercipta. Namun demikian, akhir-akhir ini banyak diskusi yang membahas kelemahan-kelemahan kita dalam menghadapi gejolak mata uang rupiah (yang merupakan salah satu produk globalisasi). Kebijakan untuk meredam gejolak itu termasuk di dalamnya peranan IMF dan dampaknya pada perkembangan yang kurang baik bagi ekonomi Indonesia.

Lalu, kalau akhir-akhir ini di satu pihak banyak kalangan dunia usaha maupun pengamat ekonomi yang merasakan semakin perlunya “perbaikan” di segala lini termasuk beberapa di antaranya mengusulkan alternatif kebijakan sementara di pihak lain para petinggi negara memandang segala sesuatunya telah berjalan sebagaimana mestinya dan telah baik, maka boleh jadi kita sedang dalam suatu keadaan menjamurnya ketidakpastian. Jika kalangan elit politik melakukan sekadar simplifikasi politik, bisa jadi akibatnya harus dibayar cukup mahal di kemudian hari.

Agar menjamurnya ketidakpastian dan kebingungan ini tidak terus berlanjut, penelaahan dan mempertanyakan kembali konsep perdagangan bebas serta mencari alternatif kebijakan bisa jadi cukup masuk akal. Namun demikian, ada baiknya mengkaji terlebih dahulu dengan saksama apa landasan dasar yang menopang pembangunan kita selama ini beserta elemen-elemen yang mempengaruhinya. Fundamental ekonomi adalah satu di antaranya.

Seperti banyak diungkap, ekonomi Indonesia masih mengalami kelemahan pada fundamental ekonomi yang sebenarnya merupakan cerminan adanya keseimbangan eksternal dan internal. Dalam masalah kelemahan fundamental ekonomi, paling tidak ada tiga hal penting yang layak diperhatikan. Pertama, kelemahan fundamental ekonomi punya hubungan tidak hanya dengan masalah pertumbuhan, inflasi, dan ekspor saja, tetapi juga dengan kurangnya kesiapan pengusaha menyangkut efisiensi, daya saing, dan produktivitas usaha. Kedua, pemerintah yang kurang bersih dan cendrung memihak. Ketiga, ketidakberdayaan konsumen dalam menahan intervensi produk dan budaya asing. Tiga hal tersebut mempunyai keterkaitan cukup erat. Era perdagangan bebas akan mempunyai dampak positif pada perekonomian nasional hanya dengan asumsi telah adanya persiapan yang cukup dari ketiga agen tersebut. Dan hingga kini belum terlihat adanya perbaikan yang cukup signifikan.

Globalisasi dan Krisis Ekonomi

Dengan menengok kasus krisis rupiah, maka diyakini bahwa krisis ekonomi yang melanda kita dan negara-negara tetangga adalah produk globalisasi, khususnya global kapital. Gejala ini di Asia Tenggara belum mereda dan bahkan ada gelagat akan berkepanjangan. Kurs mata uang sekarang masih bersifat oversbooting, baik di Indonesia maupun di Thailand, Malaysia, dan Filipina. Untuk rangsangan ekspor non-migas. Sebenarnya kurs Rp 5000,- per dolar AS sangat mungkin sudah lebih dari cukup, akan tetapi kurs Rp 7000,- sampai dengan Rp 8000,- per dolar AS tampaknya akan bertahan cukup lama, selama modal portofolio serta kredit bank asing masih takut kembali ke Asia Tenggara. Permintaan terhadap dolar jauh melebihi penawarannya, karena unsur keperluan pembayaran kembali utang serta bunganya dari kalangan perusahaan.

Belakangan ini mata uang di Thailand, Malaysia, dan Filipina mulai sedikit menguat. Rupiah merupakan pengecualian, dan meskipun ada campur tangan dari IMF dan bantuan beberapa negara tetangga maupun masyarakat, kurs rupiah tetap tidak mau turun di bawah Rp 7000,- per dolar AS. Apa lagi ada gejaal efek ketularan yang menyentuh mata uang korea, Hong Kong, dan Taiwan, walaupun tidak separah di Asia Tenggara. Karena itu, intervensi BI ke pasar uang tampaknya juga tidak menolong penguatan nilai rupiah.

Kita harus mencari hikmahnya saja. Jangan mengharapkan rupiah kelak bisa kembali pada kurs di bawah Rp 7000,- per dolar AS, misalnya, setelah ada pemufakatan dengan IMF. Pemufakatan ini tetap penting dan diperlukan untuk menyehatkan badan ekonomi kita. Paket bantuan keuangan yang mudah-mudahan menyertainya kita perlukan untuk membantu menyeimbangkan kembali anggaran tanpa , misalnya harus menaikkan harga-harga BBM seketika bantuan keuangan juga kita perlukan untuk menyehatkan perbankan sehingga dalam proses ini tidak perlu mengorbankan para deposan.

Tetapi, janganlah kita harapkan paket IMF bisa mengembalikan kurs rupiah menjadi mendekati kurs semula. Sebab, krisis mata uang di Asia Tenggara bukan krisis negara tunggal. Rupiah , baht, ringgit, dan pesos berjalan seperti bergandengan. Ringgit bisa lebih kuat sedikit tetapi tidak bisa jalan sendiri. Begitu juga Rupiah.

Di Indonesia ada paket IMF yang telah disetujui oleh pemerintah maupun IMF dan Bank Dunia, tetapi orang masih akan menunggu bagaimana efektivitas pelaksanaannya. Ini terjadi di Thailand yang sudah beberapa lama memiliki paket perjanjian dengan IMF tetapi pelaksanaannya tersendat-sendat. Biang keladinya adalah intervensi politik dalam pelaksanaan paket perjanjian itu. Di Indonesia hal serupa bisa terjadi juga.

Mempertanyakan Globalisasi dan Mekanisme Pasar ?

Sekarang, kita sedang mengalami krisis ekonomi sebagai akibat dari globalisasi. Dan, sebagian orang menyalahkan globalisasi dan mekanisme pasar itu. Mengenai konsep globalisasi yang membuat krisis negeri kita, yang salah bukanlah konsep globalisasi melainkan kita sendiri yang tidak siap. Sosok industri manufaktur Indonesia yang masih rapuh dan serba tanggung menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling tertinggal di antara negara-negara Asia Timur. Hal ini boleh jadi disebabkan juga oleh kebijakan pemerintah yang bersifat ambivalen dalam pengembangan industri. Sebaga contoh, pemerintah memberikan berbagai fasilitas kepada industri hulu, tetapi kurang disertai kebijakan yang terarah dan konsisten pada industri hilirnya. Akibatnya, meskipun industri hulunya terlihat kuat tetapi tidak punya pijakan dan akar yang cukup tangguh. Ini menunjukan bahwa antara kebijakan makro dan implementasi di tingkat mikro sering tidak terkait, sementara edukasi dan pemberdayaan konsumen dibiarkan rapuh dan tidak berdaya menghadapi ekspansi rezim industri.

Sejak 1986 kita dan seluruh Asia Tenggara telah menikmati pertumbuhan tinggi. Banyak modal asing yang masuk, juga dalam bentuk modal portofolio dan kredit bank, yang mengakibatkan kita lupa daratan. Jadi, jika kita mempertanyakan “globalisasi” maka sebenarnya kuncinya adalah bahwa kita harus sadar kembali, memperkuat diri, menyesuaikan tingkat hidup yang wajar, mengerem tingkat kegiatan kita yang cendrung konsumtif dan ekspansif. Semoga tak Cuma tertegun menyaksikan gemerlapnya globalisasi dengan berbagai kemasannya, lalu berbondong-bondong mengerubunginya, tetapi lantas terkapar. Lalu menyalahkan globalisasi. Di pihak lain, boleh jadi karena globalisasi pertumbuhan ekonomi kita akan tetap relatif tinggi, tetapi manfaat pembangunan akan semakin terkonsentrasi pada kelompok interest. Kelompok pengusaha semacam ini biasanya menguasai bidang-bidang yang pasarnya berbentuk oligopolis, sehingga penentuan harga ada di tangan mereka dan biaya sosial yang harus harus mereka tanggung bisa dengan mudah mereka alihkan kepada konsumen yang tidak berdaya menolaknya.

Dunia milik Adam Smith adalah dunia yang indah, adil, dan selalu muncul untuk mencapai keseimbangan. Mekanisme pasar-nya Adam Smith kalau persyaratannya bisa terpenuhi, memang valid. Sayangnya, dunia yang demikian tidak pernah ada dan tidak akan ada. Tetapi indahnya, adilnya, seimbangnya, mekanismenya kita akui. Maka haruslah kita dekati dengan berbagai peraturan dan pengaturan oleh pemerintah, tapi tidak dengan deregulasi dan debirokratisasi dalam arti sempit yang sifatnya membabi buta dan nihilistik.

 

Sumber : Buku Ekonomi Indonesia Baru , Penulis Anggito Abrimanyu, Penerbit PT. AlexMedia Komputindo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s