Perkembangan Strategi Pembangunan Ekonomi

PERKEMBANGAN STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI

A.   BERBAGAI MACAM STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI

Perdebatan-perdebatan tentang arti , makna, dan fungsi, pembangunan, ternyata sangat mempengaruhi strategi pembangunan. Pada mulanya, pembangunan yang diidientikan dengan pertumbuhan ekonomi pada pokoknya hanya berkisar pada teori linier dari komponen yang kurang. Karena itu, strategi pembangunan terpusat pada upaya pembentukan modal, serta bagaimana menanamkannya secara seimbang dan menyebar, atau secara terarahdan memusat, sehingga menimbulkan efek pertumbuhan ekonomi. Didalam pemikiran ini pertumbuhan ekonomi menjadi kriteria utama bagi pengukuran keberhasilan pembangunan. Selanjutnya dianggap bahwa dengan pertumbuhan ekonomi buah pembangunan akan dinikmati pula oleh si miskin melalui proses merambat ke bawah atau melalui tindakan koreksi pemerintah mendistribusikan kembali hasil pembangunan. Bahkan bersirat pendapat bahwa ketimpangan atau ketidakmerataan adalah merupakan semacem prasyarat atau kondisi yang harus terjadi guna memungkinkan terciptanya pertumbuhan, yaitu melalui proses akumulasi modal oleh lapisan kaya. Strategi ini kemudian dikenal sebagai strategi pertumbuhan.

Namun sebagai akibat diberlakukannya model pertumbuhan ini yang terjadi adalah kepincangan sosial yang semakin tajam : antara yang dikota dan yang didesa, yang kaya dan yang miskin dan antardaerah. Keadaan ini mendorong para ilmuwan untuk mencari alternatif. Alternatif baru yang muncul adalah strategi pembangunan dengan pemerataan yang dikemukakan oleh Irma Aldeman dan Morris. Strategi yang dikemukakannya kemudian dikenal sebagai “pertumbuhan dengan pemerataan”. Yang menonjol di dalam model pertumbuhan dengan pemerataan ini adalah ditekannya peningkatan pembangunan melalui teknik social engineering, seperti melalui penyusunan rencana induk, paket program terpadu. Namun ternyata model pertumbuhan pemerataan ini juga belom mampu memecahkan masalah pokok yang dihadapi negara-negara sedang berkembang seperti pengangguran masal, kemiskinan struktural dan kepincangan sosial.

Berdasarkan pada masalah-masalah yang belum dapat diselesaikan, kemudian muncul suatu teori ketergantungan yang strateginya memilih menghilangkan penyebab ketergantungan itu. Teori ketergantungan muncul dari pertemuan ahli-ahli ekonomi Amerika Latin pada tahun 1965 di Mexico City. Inti teori ini mau menjelaskan dasar-dasar kemiskinan yang diderita oleh negara-negara sedang berkembang, khususnya negara-negara Amerika Latin. Menurut tokoh-tokoh teori ketergantungan, kemisikinan di negara sedang berkembang disebabkan adanya ketergantungan pada pihak luar. Oleh karena itu, pembangunan sebagai upaya masyarakat untuk melepakskan diri dari keterbelakangan yang disebabkan oleh kondisi ketergantungan itu, haruslah merupakan pembebasan masyarakat dari rantai yang membelenggu struktur yang eksploitatif. Struktur yang eksploitatif tersebut dapat dilihat dengan jelas dalam pola struktur ekonomi kolonial.

Dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan pembangunan menjangkau, apalagi memecahkan masalah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan, kemudian muncul strategi pendekatan kebutuhan pokok (basic need approach) dalam pembangunan. Pendekatan ini mempunyai sasaran langsung menanggulangi kemiskinan masal. Pada mulanya pendekatan ini dikembangkan oleh Bariloche Foundation tetapi kemudian selanjutnya diambil alih oleh Organisasi Perburuhan Sedunia (ILO) pada tahun 1975. ILO menekankan bahwa kebutuhan pokok manusia tidak mungkin dipenuhi jika pendapatannya rendah akibat kemiskinan yang bersumber pada pengangguran. Untuk itu tiga sasaran pokok perlu diusahakan bersama yaitu membuka lapangan kerja, meningkatkan pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan pokok.

Strategi pembangunan yang diberlakukan di Indonesia ternyata sangat dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan pemikiran yang melatarbelakangi perkembangan strategi pembangunan tersebut. Dengan berinteraksinya kedua kelompok ekonomi lalu muncul strategi pembangunan ekonomi yang beraneka, strategi modernisasi strategi basic need, strategi agropolitan, community devoloment, bottom up vs top down, ketergantungan dan regional ekonomi , dan yang akan datang.

B.    FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI

Pada dasarnya faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi pembangunan ekonomi adalah tujuan yang hendak dicapai. Apabila yang ingin dicapai adalah tingkat pertumbuhan yang tinggi, maka faktor yang mempengaruhi digunakannya strategi tersebut adalah tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah, akumulasi kapital yang rendah, tingkat pendapatan pada kapital yang rendah, struktur ekonomi yang berat ke sektor tradisional yang juga kurang berkembang. Melalui peningkatan laju pertumbuhan itu orang percaya bahwa prinsip trickle down effect akan bekerja dengan baik sehingga tujuan pembangunan secara keseluruhan dapat dicapai.

Namun seperti telah diuraikan ternyata strategi pembangunan itu tidak dapat berperanan baik, khususnya dalam mencapai tingkat pemerataan pembangunan, mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Sehingga faktor yang memperanguhi dpilihnya strategi penciptaan lapangan kerja adalah tidak bekerjanya trickle down effect, pemerataan pembangunan yang pincang, pengangguran yang cukup besar khususnya disektor tradisional yang dipihak lain masih didukung laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi.

Faktor yang mempengaruhi diberlakukannya strategi pembangunan yang berorientasi pada penghapusan kemiskinan pada dasarnya dilandasi oleh keinginan, berdasarkan norma tertentu, bahwa kemiskinan harus secepat mungkin diatasi. Sementara itu strategi-strategi pembangunan yang lain ternyata sangat sulit mempengaruhi / memberikan manfaat secara langsung kepada golongan miskin ini.

Strategi pembangunan, seperti yang telah diuraikan, ternyata malah menimbulkan ketidakmerataan hasil pembangunan. Ketidakmerataan itu tidak hanya antargolongan masyrakat, tetapi juga antardaerah. Sehingga ada daerah maju dan daerah terbelakang. Ketimpangan antardaerah ini pada dasarnya disebabkan oleh kebijaksanaan penanaman modal yang cenderung hanya diarahkan ke lokasi tertentu. Dalam kebijaksanaan ini ternyata bekerjanya prinsip spread effect (bandingkan dengan prinsip trickle down effect ) lebih lemah dibandingkan dengan bekerjanya back-wash effect (proses mengalirnya sumber daya dari desa ke kota), sehingga strategi penananaman modal itu mengakibatkan semakin miskinnya daerah terbelakang khususnya pemiskinan sumber dayanya.

Selain kerena kebijaksanaan penanaman modal, ketimpangan antardaerah juga disebabkan karena potensi daerah yang berbeda-beda. Di daerah Kalimantan misalnya, potensi hutannya besar sekali dan itu tidak dimiliki Pulau Jawa. Riau memiliki sumber minyak bumi dan tidak dimiliki oleh NTT dan seterusnya. Dengan demikian faktor-faktor yang mempengaruhi diberlakukannya strategi pembangunan yang berorientasi pada pemerataan antardaerah adalah potensi daerah yang berbeda, kebijaksanaan penanaman modal yang berat sebelah (urban bias: penanaman modal hanya di sektor yang sangat menguntungkan, biasanya di daerah perkotaan ), dan karena adanya ketimpangan antardaerah.

C.    STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA

Strategi Pembangunan Ekonomi di Indonesia, khususnya sebelum tahun 1966, pada tingakat tertentu diarahkan untuk mencapai laju pertumbuhan yang tinggi. Namun banyak pengamat mengatakan bahwa titik berat pembangunan pada periode itu lebih dititikberatkan pada pembangunan politik dan sangat kurang memperhatikan pembangunan ekonomi. Pernyataan ini didasarkan pada fakta bahwa pada periode itu kebiaksanaan dalam bidang ekonomi yang konsisten sangat rendah derajatnya., kalau tidak boleh dikatakan tidak konsisten sama sekali.

Hasil dari kebijaksanaan yang diberlakukan sebagai penjabaran strategi pertumbuhan akhirnya menciptakan hyper infasi pada akhir tahun 1965 yang merusak seluruh sektor perekonomian. Kemudian pada periode 1966-1968, strategi yang diberlakukan pada dasarnya adalah strategi pertumbuhan yang didasarkan pada ke-Indonesia-an. Namun disadari strategi pertunbuhan itu tidak mungkin dicapai kalu tingkat hyper inflasi  tidak dikehendaki terlebih dahulu. Untuk itu dalam periode ini Pemerintah Indonesia memberlakukan kebijaksanaan stabilisasi dan rehabilisasi.

Periode ini kemudian disusul dengan periode Replita dan dalam setiap Replita, khususnya sejak Replita II, strategi pembangunan ekonomi yang diberlakukan di Indonesia adalah strategi yang mengacu pada pertumbuhan yang sekaligus berorientasi pada keadilan (pemerataan),menghapus kemiskinan, dan juga keadilan (pemerataan) antardaerh.

Strategi ini nampak lewat kebijaksaaan yang diberlakukan, misalnya :

  1. Semakin menigkatnya bantuan Pusat kepada Daerah untuk membiayai pembangunan di daerah yang sifatnya padat karya(inpres). Anggaran untuk pembangunan daerah ini sejak tahun pertama Replita I semakin meningkat. Bahkan juga pada saat anggaran untuk sektor lainnya berkurang. Kebijaksanaaan ini selain ingin mendorong pembangunan didaerah (mengatasi ketimpangan antardaerah) juga sekaligus berorientasi pada strategi penciptaan lapangan kerja
  2. Kebijaksanaan pemerintah dalam bidang perkreditan, khususnya sejak diintrodusirnya KIK/KMK.
  3. Perhatian yang besar terhadap koperasi khususnya kepada KUS.

Dari keterangan-keterangan pemerintah yang ada dapat disimpulkan bahwa strategi pembangunan di Indonesia tidak mengenal pembedaan strategi yang ekstrem. Artinya sangat disadari bahwa orientasi ke pemerataan (keadilan), pengahapusan kemiskinan memang merupakan hal yang harus dicapai (sesuai dengan UUD 1945), namun hal itu tidak mungkin dicapai kalau aspek pertumbuhan ekonomi dilupakan sama sekali. Pemerataan tanpa pertumbuhan sama saja dengan pemerataan kemisikinan, demikian antara lain paham teknorat-teknorat Indonesia.

Sementara itu sejak Replita II, strategi pembangunan wilayah di Indonesia secara tegas ditekankan dengan dibaginya wilayah Indonesia menjadi 4 wilayah pembangunan, yaitu wilayah pembangunan (WP) I, II, III, dan IV. Pembagian WP ini tidak didasarkan pada pembagian secara administratif politis yang ada.

Strategi-strategi pembangunan ekonomi yang diberlakukan itu secara konsisten didukung oleh kebijaksanaan ekonomi. Kemudian strategi itu juga dipertegas dengan menetapkan sasaran-sasaran atau titik berat pembangunan pada setiap Replita :

  1. Replita I    : meletakkan titik berat ada sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian.
  2. Replita II : meletakkan titik berat pada sekor pertanian dengan meningkatkan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.
  3. Replita III: meletakkan titik berat pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi.
  4. Replita IV: meletakkan titik berat pada sektor pertaniaan untuk melanjutkan usaha-usaha menuju swasembada pangan dengan meningkatkan industru yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri, baik industri ringan yang akan terus dikembangkan dalam Replita-replita selanjutnya.

 

 

Sumber :       Buku Perekonomian Indonesia, Penulis Drs. P.C Suroso, M.Sc , Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s