Faktor-Faktor Kemiskinan

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN

Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan. Tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab sebenarnya atau utama serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan. Sebagai suatu contoh, sering dikatakan bahwa salah satu penyebab kemiskinan adalah tingkat pendidikan yang rendah. Sekarang ini, seseorang hanya dengan tingkat pendidikan SD akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan, terutama sektor formal dengan pendapatan yang baik. Akan tetapi, pertanyaan adalah apakah tingkat pendidikan yang rendah itu adalah penyebab utama / sebenarnya ?apabila banyak orang di Indonesia hanya berpendidikan SD karena orang tua mereka tidak sanggup membiayai pendidikan lanjutan, maka jelas penyebab sebenarnya adalah masalah biaya atau lebih tepatnya lagi kemiskinan (orang tua mereka ). Kalau diteruskan ke belakang, pertanyaan selanjutnya adalah apakah orang tua mereka miskin juga karena pendidikannya rendah ?. Jadi terdapat semacam “lingkaran setan” dalam masalah timbulnya kemiskinan.

Walaupun misalnya tingkat pendidikan yang rendah sebagai titik awal permasalahnnya, namun tetap bisa dipertanyakan apakah memang karena pendidikannya rendah maka seseorang jadi miskin ? kalau dibandingkan dengan di negara-negara industri maju, misalnya Eropa Barat atau Amerika Serikat, seorang montir mobil dengan pendidikan kejuruan yang setingkat dengan SMA atau Diploma II jauh lebih makmur daripada rekannya dengan keahlian yang sama di Indonesia. Berarti penyebabnya bukan hanya karena pendidikan yang rendah, melainkan juga karena tingkat gaji atau upah yang rendah. Ini selanjutnya disebabkan oleh sejumlah faktor lainnya, termasuk sistem penghargaan yang kurang baik dan kinerja yang buruk.

Kalau diuraikan satu per satu, jumlah faktor yang dapat mempengaruhi, langsung maupun tidak langsung, tingkat kemisikinan cukup banyak, mulai dari tingkat dan laju pertumbuhan output (atau produktivitas tenaga kerja), tingkat upah neto, distribusi pendapatan, kesempatan kerja, termasuk jenis pekerjaan yang tersedia, tingkat inflasi, pajak dan subsidi, investasi, alokasi serta kualitas sumber daya alam, penggunaan teknologi, tingkat dan jenis pendidikan, kondisi fisik dan alam disuatu wilayah, etos kerja dan motivasi pekerja, kultur atau budaya atau tradisi, hingga politik, bencana alam, dan peperangan. Kalau diamati , sebagaian besar dari faktor-faktor tersebut juga saling mempengaruhi satu sama lainnya. Misalnya, tingkat pajak yang tinggi membuat tingkat upah neto rendah dan ini bisa mengurangi motivasi kerja seseorang sehingga produktivitasnya menurun; produktivitas menurun selanjutnya dapat mengakibatkan tingkat upah netonya berkurang lagi dan seterusnya. Jadi, tidak mudah untuk memastikan apakah karena pajak naik atau produktivitasnya yang turun membuat pekerja tersebut menjadi miskin karena upah netonya menjadi rendah.

Dilihat secara sektoral, pusat kemiskinan di Indonesia terdapat di sektor pertanian, terutama subsektor perikanan. Di Indonesia, nelayan sangat miskin dibanding petani. Hal ini disebabkan oleh nelayan tidak punya tanah dan proses produksinya tidak bersifat cultivation, seperti halnya di pertanian. Pendapatan nelayan setiap hari sangat tergantung pada beberapa jumlah ikan yang ias bisa dapat di laut dan jual di pasar pada hari itu. Jelas jumlah ikan yang ia bisa kumpulkan selama misalnya, tiga bulan jauh lebih sedikit daripada hasil seorang petani pada saat panen. Ditambah lagi, di Indonesia industri ikan tidak berkembang sebaik industri-industri pengolahan komoditas-komoditas pertanian. Sehingga di Indonesia nilai tambah dari produk pertanian (walaupun tidak semuanya masuk ke kantong petani) jauh lebih tinggi daripada nilai tambah dari produk-produk ikan.

Selanjutnya, melihat pada status pekerjaan kepala rumah tangga miskin sebagai buruh, di pedesaan buruh di sektor pertanian paling dominan. Pada umumnya, buruh-buruh pertanian tidak memiliki tanah sendiri. Mereka sering disebut sebagai petani gurem, yang merupakan golongan termiskin dari kelompok tani. Mereka mengerjakan tanah milik petani skala sedang atau besar berdasarkan upah harian, mingguan atau bulanan. Sedangkan di perkotaan sebagian besar dari rumah tangga buruh miskin mempunyai sumber penghasilan utama di sektor-sektor industri, bangunan, dan jasa.

Sekarang pertanyaan kenapa sektor pertanian merupakan pusat kemiskinan di Indonesia ?kemungkinan ada tiga faktor penyebab utama. Pertama, tingkat produktivitas yang rendah disebabkan oleh jumlah pekerja di sektor tersebut terlalu banyak, sedangkan tanah, kapital, dan teknologi terbatas serta tingkat pendidikan petani yang rata-ratanya sangat rendah. Banyak dari mereka hanya berpendidikan atau tidak tamat SD. Kedua, daya saing petani atau dasar tukar domestik komditi pertanian terhadap output industri semakin lemah. Ketiga, tingkat diversifikasi usaha di sektor pertanian ke jenis-jenis komoditi nonfood yang memiliki prospek pasar (terutama ekspor) dan harga yang lebih baik masih sangat terbatas.

Sumber : Buku Perekonomian Indonesia, Penulis Dr. Tulus T.H Tambunan, Penerbit Ghalia Indonesia

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s